Renungan Minggu

Kebangkitan-Nya Mempersatukan

Kis. 4:32-35; 1 Yoh. 1:1-2:2; Yoh. 20:19-31

Seperti anak ayam kehilangan induknya, begitulah yang terjadi pada murid-murid Tuhan Yesus. Peristiwa penyaliban telah mengguncang dan menggetarkan jiwa mereka. Setelah menyaksikan bagaimana Guru yang mereka junjung dan kasihi di bunuh secara sadis, mental mereka pasti sangat terpuruk.  Mereka seolah kehilangan pegangan dan tempat berlindung.  Yohanes 20:19, menuliskan murid-murid berkumpul di suatu tempat yang terkunci karena mereka takut terhadap orang Yahudi.

Namun, syukurlah hal itu tidak berlangsung lama.  Tuhan Yesus tiba-tiba hadir di tengah-tengah mereka.  Memberi mereka damai sejahtera sehingga mereka bisa bersukacita kembali.  Kepercayaan diri para murid, timbul kembali ketika menyadari bahwa Tuhan Yesus ternyata tidak meninggalkan mereka. Dia telah bangkit. Hal ini membawa dampak yang luarbiasa terhadap pelayanan mereka di kemudian hari.  Dengan kuasa yang besar, para murid menyaksikan kebangkitan Kristus sehingga sanggup menggerakkan jemaat mula-mula untuk hidup saling mengasihi dan tolong-menolong  (Kis. 4:32-35).

Perayaan Paskah sudah kita lewati seminggu yang lalu.  Tiap tahun kita selalu merayakan kebangkitan Tuhan Yesus.  Namun, sudahkah kita juga menerima dampak yang sama seperti murid-murid ketika menyadari bahwa Tuhan Yesus telah bangkit?  Jika kita belum merasakan dampak itu maka tinjaulah kembali hubungan kita dengan Tuhan. Mungkin kita masih hidup dalam kegelapan sehingga tidak dapat memancarkan terang Kristus itu kepada orang lain (1 Yoh. 1:5-7).

Kebangkitan Kristus  hendaknya mengubah kita menjadi pengikut-Nya yang berani dan tekun memberitakan kembali kabar sukacita ini. Kesaksian kita hendaknya dapat mengubah orang lain sehingga bersedia menjalani kehidupan umat Tuhan yang seturut kehendak-Nya.  (Ejo)