Renungan Minggu

JANJI ILAHI DIGENAPI

Kejadian 9:8-17; 1Petrus 3:18-22; Markus 1:9-15

Setelah berkeluarga, menepati janji adalah ‘mata kuliah’ dimana saya sering mendapat nilai kurang. Di awal pernikahan, sering saya menatap mata istri saya dengan rasa bersalah, ketika lupa menepati janji. Hanya bisa meminta maaf. Janji itu terlihat terlihat sepele tetapi sangat bermakna.  Misalnya, berjanji memberi kabar jam berapa tiba di rumah, agar ia bisa menyiapkan makan siang yang masih hangat ketika saya datang.

Memegang janji tidaklah mudah. Tidak semudah membuatnya. Tidak heran jika sebagian orang berprinsip lebih baik tidak berjanji, daripada nanti menyesal dan merasa bersalah karena gagal menepatinya. Menepati janji menjadi salah satu tolok ukur ‘prestasi’ kita dalam relasi dengan sesama. Semakin sering ingkar janji, semakin sulit orang mempercayai kita. Janji diucapkan, janji dilupakan. Kekecewaan berulang ini menyebabkan manusia makin ragu untuk percaya kepada janji. Termasuk untuk percaya kepada janji Tuhan!

Nuh percaya penuh pada janji Tuhan. Kepercayaan tersebut dibuktikan dengan ketaatannya ketika Tuhan menyuruh membuat bahtera di atas bukit (Kejadian 6)! Tuhan yang merasa menyesal telah menciptakan manusia (Kej 6:6), tetap memberikan kasih karunianya kepada Nuh (Kej 6:8). Anugerah yang dibarengi dengan ketaatan. Pada akhirnya, Tuhan senang dengan ketaatan Nuh dan berjanji memberkati Nuh dan keturunannya, dan tidak akan membinasakan mahluk hidup lewat air bah lagi (Kej 9:9-17).

Janji Allah untuk menyelamatkan manusia digenapi dalam diri Yesus Kristus. Dalam masa Pra-Paska ini kembali kita mengingat janji tersebut. Ketika dibaptis, Allah Bapa sendiri menyatakan identitas Yesus sebagai Anak Allah, dan Roh Kudus turun untuk meneguhkan identitas-Nya (Mrk 1 : 9-11). Anak Allah menepati janji Bapa dengan merendahkan diri menjadi sama dengan manusia, dihina dan disiksa, mati di kayu salib – untuk menebus dosa kita (1 Pet 3 : 18). Kebangkitan dan kemenangan-Nya atas kuasa maut membuktikan bahwa janji-Nya benar. Bahwa percaya dan bersandar kepada janji-Nya tidak akan pernah mengecewakan. Tuhan Yesus telah berjanji. Dengan iman kita percaya. Dengan penuh harap kita menyongsongnya. Dengan kesabaran kita menantinya. (DAA)

Arsip