Renungan Minggu

Iman Yang Berharap Kepada Allah

Kej 15:1-16, Ibr 11:1-3, 8-16, Luk 12:32-40

Apa yang kita butuhkan untuk bisa bertahan hidup?
Alkitab mengatakan dengan jelas bahwa ternyata kebutuhan primer saja tidaklah cukup untuk hidup sebagai orang benar. Untuk sekedar hidup di dunia mungkin ya, tetapi untuk dapat hidup sebagai orang benar, nanti dulu. Alkitab mengatakan ada satu hal lagi yang dibutuhkan untuk hidup sebagai orang benar. Dan itu adalah iman. Karena tidak semua masalah kehidupan itu berkaitan dengan sandang, pangan dan papan. Tidak semua masalah dapat kita atasi dengan kekuatan sendiri, kita butuh TUHAN, kita perlu memiliki iman yangg berharap kepada Tuhan Yesus.
Bapa Gereja, Agustinus yang hidup pada abad 5-6, dalam bukunya “The Confessions” menulis sebuah pertanyaan yang menarik, “Apakah yang sesungguhnya kucintai ketika aku mencintai Allah?” Ya, sebenarnya apa yang kita cintai ketika mencintai Allah? Apakah itu berkatNya, janjiNya, karena kita minta kesembuhan atau mengharapkan kekayaan?
Perjalanan iman tidak selalu mulus, terkadang berbagai tantangan dan kesulitan akan muncul menghadang orang-orang beriman. Namun respon ketika kita menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan akan memperlihatkan siapa diri kita. Apakah kita masih menggantungkan pengharapan kita pada Allah atau tidak.
Bacaan hari ini juga mengungkapkan bahwa tantangan dan kesulitan ternyata berguna bagi pertumbuhan iman kita. Semua itu mengajar kita untuk mempercayakan hidup dalam pemeliharaan Tuhan. Iman yang berharap kepada Allah walau sederhana, sudah cukup untuk memotivasi kita agar tetap berpegang kepada janjiNya yang tidak kelihatan. Dan dengan iman yang berharap kepada Allah memungkinkan kita tetap bersukacita dan berpengharapan, meski berhadapan dengan krisis dan memampukan kita tetap setia melakukan kehendakNya.
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” Ibrani 11:1. (WS)