Renungan Minggu

Iman Datang, Ketakutan Hilang

Yesaya 7:10-16; Roma 1:1-7; Matius 1:18-25

Dua tahun lalu, saya merasa terusik ketika menyaksikan drama Natal di GKI Peterongan. Di sana dikisahkan lika-liku pergumulan Yusuf dan Maria ketika hendak menikah dan menggenapi rencana agung Allah. Saya jadi sadar, betapa banyak kisah natal sering luput dari perhatian kita.
Minggu ini kita membaca lagi kisah kelahiran Yesus. Kehadiran Yesus yang diberitakan secara berapi-api oleh Yohanes Pembaptis ternyata jauh dari gemerlap kuasa dan tahta. Bahkan tidak sebanding dengan kelahiran Yohanes Pembaptis yang dirayakan penuh sukacita oleh sanak keluarga dan tetangga. Sungguh menggetarkan: nasib umat manusia bergantung pada respon muda-mudi ndeso ini. Tidak mudah Yusuf memutuskan untuk meneruskan pertunangannya dengan Maria, ditengah kenyataan Maria hamil tanpa sebab yang bisa dijelaskan. Sungguh sembilan bulan yang menegangkan. Mereka berdua hidup di tengah budaya Yahudi yang sangat ketat dan kaku, di tengah aroma skandal yang menghantui dan ancaman rajam yang mengintai. Iman dan keberanian Yusuf untuk menaati pimpinan Tuhan patut kita teladani. Keberanian Yusuf untuk tetap menikahi Maria menunjukkan imannya pada rencana keselamatan Allah bagi manusia melalui Yesus (Mat 1:18-25)
Apakah dasar keberanian Yusuf mengambil keputusan kontroversial ini? Setidaknya ada tiga hal. Pertama, Yusuf ingat identitasnya. Ia bagian dari garis keturunan Daud; keturunan yang dipakai Tuhan untuk menjalankan rencana besar penyelamatan manusia  (Mat 1:20). Kedua, Yusuf diberitahu oleh malaikat Tuhan akan identitas janin yang dikandung Maria (ay 20-21). Ketiga, Yusuf diingatkan bahwa kejadian ini adalah penggenapan nubuat para nabi yang dinantikan oleh seluruh umat Israel (Mat 1:22-23, Yes 7:14). Kesadaran Yusuf akan kebenaran Ilahi inilah yang membuatnya berani mengambil keputusan sulit ini. Kesadaran yang sama juga membuat Paulus berani menyambut kasih karunia dan panggilan Allah, untuk menuntun semua bangsa agar percaya dan taat kepada nama-Nya (Rm 1:5).
Tantangan dan kesulitan adalah bagian dari kehidupan. Kita akan terus menghadapinya selama masih bisa bernafas. Beranikah kita seperti Yusuf: peka dan menaati tuntunan kebenaran Illahi? Anugerah kebenaran Illahi mendatangkan iman. Iman menghilangkan ketakutan dan mengubahnya menjadi keberanian, keberanian untuk taat pada tuntunan-Nya. (DAA)