Renungan Minggu

Hidup Benar Sebagai Wujud Pertumbuhan

Setiap orang pasti ingin menjalani kehidupannya dengan sebaik mungkin. Bagaimana cara terbaik untuk menjalani hidup ini? Orang Indian Cherokee dari Amerika Serikat memiliki nasehat sebagai berikut: “Ketika engkau lahir, engkau menangis sementara semua orang di sekitarmu tersenyum. Jalanilah hidupmu sedemikian rupa sehingga pada saat engkau mati, semua orang di sekitarmu menangis sementara engkau sendiri tersenyum.” Ungkapan ini mengajarkan kepada kita agar kita hidup menjadi orang yang berguna bagi sesama kita, sehingga pada saat kita mati nanti kita mewariskan kebajikan kepada orang-orang di sekitar kita.
Gereja di Korintus di sebut anak-anak karena secara spiritual mereka belum sehat dan dewasa. Mengeluh serta menjagokan seseorang ketimbang Kristus adalah bukti dari hal itu. Rupanya nafsu jahat masih banyak menguasai ketimbang keselarasan dengan kasih Ilahi. Kuasa Allah mendorong orang dengan berbagai kemampuan untuk berkarya bukan bagi diri sendiri atau menjelekkan orang lain, tetapi membangun jemaat Tuhan. Ini dapat terjadi kalau Firman Allah bukan sekedar dimengerti dan diterima saja, tetapi juga mengubah perilaku kehidupan karena ditaati.
Hati dan pikiran adalah tahapan awal yang harus dibenahi sebelum orang melangkah pada perkataan dan perbuatan. Bagi Yesus ketaatan kepada Firman Allah ialah ketaatan yang mendasar pada akar dan bukan sekedar kulit. Membunuh, bukan sekedar melakukan pembunuhan fisik, tetapi juga “membunuh” dengan kata-kata. Oleh sebab itu orang harus bijak mengendalikan lidahnya (21-22). Ibadah, bukan sekedar hubungan vertikal dengan Sorga, tetapi juga horisontal dengan sesama manusia di bumi (23-24). Yesus mendorong orang bukan sekedar cinta damai, tetapi mau mengerjakan perdamaian (25-26).
Hidup benar dengan mentaati perintah Allah, perintah Allah bagi umat Tuhan bukanlah beban. Sebaliknya, orang yang memilih untuk melakukan perintah Allah sedang memilih untuk menikmati kehidupan yang sesungguhnya. Tentu “hidup” dalam pengertian yang bukan sekadar bernafas saja, tetapi hidup yang dijalankan dengan kemampuan “membedakan” mana yang baik dan yang benar dengan serius lalu melakukannya. Itulah yang ditegaskan Musa kepada umat-Nya. Allah tidak memaksa, tetapi Allah mengajak umat-Nya bijaksana dalam memilih.
Marilah kita  menjalani hidup kita sebaik mungkin dengan hidup benar, memperhatikan hukum- hukumNya sebagai wujud pertumbuhan kita. (WS)

Arsip