Renungan Minggu

Hati Yang Berbela Rasa

Dewasa ini, “kemajuan” dan “perkembangan” menjadi kosa kata favorit untuk menggambarkan keadaan dunia. Dibanding puluhan tahun lampau, wajah dunia telah banyak berubah. Umat manusia bangga menyaksikan serta menikmati pencapaian di berbagai bidang. Namun di tengah hingar-bingar kemajuan tersebut, kita menyaksikan sebuah ironi. Ilmu pengetahuan semakin berkembang, teknologi makin canggih, tetapi manusia belum dan tidak akan pernah mampu menyelesaikan masalah penderitaan dan ketidakadilan.
Meski dunia berubah, Allah yang kita sembah tidaklah berubah. Ia senantiasa berbela rasa, tidak meninggalkan ciptaan-Nya bergulat sendiri dengan dosa dan segala dampaknya. Dia Allah yang mengingat, melihat, mendengarkan serta memperhatikan keluh kesah umat-Nya yang ditindas di Mesir (Kel. 2:23-25). Dia juga berbela rasa ketika umat-Nya berada di pembuangan. Tentu saja, perwujudan bela rasa tertinggi adalah ketika Ia rela turun ke dalam dunia dan mengambil rupa manusia. Di dalam diri dan karya Yesus Kristuslah bela rasa dari Allah tampak dalam kepenuhannya: bela rasa yang tampak bukan hanya sekadar prihatin terhadap masalah penyakit dan kelaparan, tetapi terutama dalam perhatian dan penyelesaian-Nya atas masalah dosa.
Lalu, bagaimanakah dengan jaman sekarang? Allah kini bekerja melalui umat yang telah ditebus-Nya. Kitalah orang-orang yang “telah beroleh belas kasihan” dan beroleh mandat untuk “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia” (1 Ptr. 2:9-10). Masalah dosa telah diselesaikan Kristus “sekali untuk selama-lamanya” dan kini tugas kitalah untuk mengabarkannya. Masalah penderitaan dan ketidakadilan masih terus ada. Adalah tugas kita untuk berbela rasa dengan mereka yang mengalaminya. Tetapi kita salah besar jika puas hanya dengan melakukan aksi-aksi sosial beberapa kali setahun untuk menunjukkan bela rasa. Ini bukanlah sikap hati yang insidental dan sentimental, yang hanya timbul di saat tertentu. Bela rasa adalah sikap hati yang timbul akibat karya Roh di dalam diri, yang memampukan kita turut merasakan dan selalu ingin berbuat sesuatu terhadap penderitaan dan kesulitan yang dialami sesama. Sejauh mana kita telah berbela rasa terhadap sesama? Biarlah lagu tema bulan ini mengingatkan masing-masing kita: “Jikalau Kristus penolongku, apakah tugas panggilanku?” (WF)