Renungan Minggu

Disatukan Bukan Diceraikan

(Kej. 2:18-24, Mzm. 8, Ibr. 1:1-4, 2:5-12, Mrk. 10:2-16)
Hidup rumah tangga tidaklah mudah karena rutinitas hidup dan  persoalan rumah tangga dapat mengganggu keutuhan rumah tangga. Sebagai umat Tuhan marilah kita mengingat komitmen awal dalam membangun hidup pernikahan. Allah yang sudah mempertemukan kita dengan pasangan kita dan meneguhkan dan memberkati hidup pernikahan kita.

Pernikahan adalah  untuk seumur hidup. Hal ini mengandung makna bahwa apapun yang terjadi, sepasang suami istri harus berjuang mempertahankan perkawinan mereka. Banyak perkawinan kristiani kandas di tengah jalan dengan berbagai macam alasan. Salah satu alasan yang selalu dipakai untuk melegalkan perceraian mereka adalah sudah tidak ada kecocokan di antara mereka. Jadi di sini ada jurang antara yang dipahami dengan kenyataan. Mengapa bisa demikian? Masalah yang mendasar adalah masalah tiadanya komitmen diantara pasangan suami istri. Kurangnya usaha untuk memelihara dan menjaga kehidupan pernikahan agar harmonis dan langgeng.

Sejak awal, Allah menganggap bahwa perkawinan adalah kudus. Kekudusan perkawinan harus dijaga dan dipertahankan oleh pasangan suami istri, apapun resikonya. Memang laki-laki dan perempuan adalah dua pribadi yang berbeda. Beda latar belakang, jenis kelamin, pendidikan, dan cara pandang. Namun perbedaan itu bukan menjadi alasan untuk berpisah, sebab keduanya telah bersepakat untuk menyatukan diri dalam ikatan perkawinan. Perkawinan adalah ajang penyatuan perbedaan-perbedaan itu supaya keduanya menjadi satu (ayat 8). Inilah yang harus disadari oleh mereka ketika memutuskan untuk memasuki perkawinan. Bukan sekedar penyatuan cinta, tetapi juga penyatuan perbedaan. Itu berarti apapun yang terjadi, pasangan harus berjuang untuk menjaga keutuhan.

Perbedaan ini akan selalu muncul oleh karena itu kita harus selalu berusaha mengatasinya dan menjembatani agar perbedaan itu tidak menjadi penghalang membangun kehidupan keluarga yang harmonis. Oleh sebab itu dalam hidup pernikahan kita perlu  membimbing pasangan dalam menjalaninya agar tambah hari tambah harmonis. Dalam hidup berkeluarga, kita perlu membangun kehidupan spiritualitas keluarga sebagai sumber kekuatan yang menyatukan dan memperkokoh hidup rumah tangga.  Selamat memasuki bulan keluarga. Tuhan memberkati saudara dan keluarga. (WS)