Renungan Minggu

Dia Yang Datang Adalah Raja Yang Menghakimi

Matius 25: 31 – 46

Minggu ini kita dikejutkan oleh pengakuan seorang mantan narapidana yang membagikan pengalaman betapa “nyaman”-nya kehidupan mereka di penjara. Sebuah televisi swasta nasional bahkan memberi tajuk “Surga di Penjara” pada siaran berita mereka. Selain itu banyak kenyataan berbicara bahwa terpidana kasus pengedar narkoba saat masuk penjara dapat “memberikan les privat intensif” tentang berbisnis narkoba dari balik terali! Sekeluarnya dari sana, orang bukannya bertobat, malah semakin lihai menjalankan aksinya. Betapa hebat dan kreatifnya mereka memanfaatkan masa “liburan” mereka!  Namun walau sanggup menghindari hukuman di dunia, mereka pasti tidak akan sanggup untuk lepas dari penghakiman Ilahi. Karena, suatu hari kelak ketika Anak Manusia datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Ia datang sebagai Raja yang mengumpulkan segala bangsa dan menghakiminya dengan adil. Ia akan memisahkan siapa yang akan masuk ke dalam  Kerajaan kekal, dan siapa yang akan masuk dalam siksaan kekal (Mat. 25: 31-32).

Siapakah mereka yang akan masuk ke dalam Kerajaan kekal? Mereka yang berbuat baik terhadap orang yang lapar, haus, miskin, telanjang, terasing, dan terpenjara. Kepada orang yang paling hina, yang tidak mungkin dapat membalas budi baik kita. Tindakan inilah representasi dari mengasihi Tuhan kita (ay. 40). Inilah tindakan iman yang nyata. Inilah buah dari iman, yang dihasilkan bukan karena kemampuan kita, tetapi semata-mata karena anugerah Tuhan. Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik, tetapi perbuatan baik (dan tulus) kepada sesama dan semesta adalah perwujudan dari rasa syukur kita setelah menerima penyelamatan dan penebusan Kristus. Hasil dari menerima anugerah Kristus adalah hidup meneladani Kristus (Rm. 8:29).

Rencana penebusan-Nya telah genap. Karena anugerah semata, darah Anak Domba yang sempurna dan tak bercela telah tercurah untuk menebus kita. Syukur kepada Allah! Terpujilah Kristus, yang nanti akan datang kembali untuk menghakimi. Sudahkah kita siaga berjaga, berhikmat mengembangkan talenta, dan meneladani dengan nyata kasih-Nya? Tidak mudah untuk meneladani kesempurnaan-Nya, tetapi setahap demi setahap, Roh Kudus yang setia membimbing kita (2 Kor. 3:18). (DAA)

Arsip