Renungan Minggu

Dia Yang Bangkit Hadir Di Sini

Kis. 10: 34-43, Mazmur 118, 1 Kor 15:1-11, Yoh 20:1-18

Dalam Peristiwa kebangkitan Kristus Maria Magdalena menjumpai : Makam Kristus telah Kosong, batu penutup kubur Yesus telah terguling. Sehingga ketika dia memanggil Petrus dan seorang murid yang lain untuk masuk ke dalam makam, mereka tidak menjumpai jenasah  Kristus.

Maria Magdalena begitu sedih, kehilangan dan kebingungan  sehingga dia  tetap tidak beranjak dari makam Yesus. Kesedihan dan kebingungan Maria Magdalena sangatlah manusiawi. Tetapi dorongan manusiawi yang sangat wajar itu sering membuat diri kita tidak peka untuk melihat realita kehadiran Tuhan. Saat kita sedih, hati kita lebih terarah kepada diri sendiri.  Sehingga perasaan sedih dan air-mata kita gagal untuk melihat TUHAN. Walaupun saat itu Kristus yang telah bangkit berada di dekat Maria Magdalena, namun Maria Magdalena tetap tidak menyadari kehadiran Kristus.

Saat Tuhan Yesus menyapa Maria Magdalena, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” (Yoh. 20:15a), justru Maria Magdalena menganggap Yesus sebagai seorang  penjaga kebun di sekitar makam. Bahkan lebih dari pada itu Maria Magdalena menuduh bahwa “penjaga makam” tersebut telah mencuri jenasah Kristus: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambilNya” (Yoh. 20:15b).

Kesedihan di dalam kita menghadapi permasalahan hidup membutakan mata rohani kita untuk melihat kehadiran Tuhan, Jadi kesedihan yang terlalu berlebihan selain sering melumpuhkan kepekaan iman, sehingga kita tidak mampu atau tidak menyadari kehadiran TUHAN dalam hidup kita.

Hati kita sangat sulit dihibur ketika kita kehilangan orang-orang yang kita cintai, atau harta benda yang telah lama kita kumpulkan dengan susah payah. Saat itu kita merasa langit kehidupan kita telah runtuh. Sehingga kita tidak lagi mampu melihat harapan dan masa depan.

Dalam situasi yang demikian, umumnya setiap kita tidak lagi peka akan kehadiran orang-orang di sekitar kita. Sebab kita telah terpenjara dalam kesedihan dan rasa putus-asa. Apabila kita tidak lagi peka atau mampu berinteraksi secara personal dengan orang-orang di sekitar kita, maka kita juga tidak akan mampu berinteraksi dengan Allah yang tidak kita lihat.

Peristiwa Paskah dinyatakan dengan panggilan Kristus secara personal kepada Maria Magdalena, sehingga Maria Magdalena tercelik hatinya melihat kehadiran Kristus yang telah bangkit. Secara spontan Maria Magdalena kemudian memegang dan memeluk Yesus.

Dalam kehidupan kita dengan segala permasalahan yang kita hadapi kita boleh meyakini dan percaya: Dia yang bangkit, Yesus Kristus hadir di sini !! (W-S)

Arsip