Renungan Minggu

Di Dalam Kristus Ada Kesatuan

Bangsa Indonesia adalah bangsa multikultural, yakni bangsa yang terdiri dari berbagai ragam suku, agama, budaya, etnis yang tersebar di berbagai pulau. Ini merupakan sebuah kekayaan yang patut menjadi kebanggaan besar bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun disisi lain kebanggaan tersebut, ada tantangan terbesar bagi kehidupan bangsa yang multikultural ini yakni adanya potensi konflik dan disintegrasi (perpecahan) yang besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Mengapa? Ya, karena didalam kepelbagaian ini ada banyak latar belakang pemikiran, pemahaman, dan tujuan yang berbeda-beda. Bukan persoalan yang mudah untuk menyatukan bangsa yang plural. Para pendiri bangsa ini telah memikirkannya jauh-jauh hari dimana setelah Republik Indonesia mengumandangkan kemerdekaannya, negara ini telah menjadikan Pancasila sebagai dasar negara dan menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kelima sila dalam Pancasila telah di desain se sempurna mungkin agar dapat mewakili seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang amat kompleks. Pancasila sebagai landasan hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, didalamnya memuat tujuan hidup bersama yang ingin dicapai sebagai suatu bangsa.
Sama dengan jemaat di Korintus yang latar belakangnya sangat beragam di kota yang modern. Orang Korintus cukup mudah terjebak dalam pengelompokkan dan perpecahan. Dan hal ini juga mengancam terjadinya perpecahan dalam jemaat, mulai dari dimensi ibadah yang rawan jadi ajang unjuk kebolehan kharismata-kharismata, sampai pada ketegangan ideologis tentang hidup berjemaat. Benih perpecahan makin bertumbuh subur ketika anggota-anggota jemaat Korintus mendeklarasikan diri sebagai pengikut-pengikut orang tertentu, golongan tertentu (Apolos, Petrus, bahkan golongan Kritus yang dianggap sebagai otoritas tertinggi). Mereka membawa bendera idola dan ideologi mereka masing-masing untuk mengklaim siapa yang paling benar, paling murni ajarannya.
Dalam situasi yang seperti inilah kemudian Rasul Paulus menasehatkan jemaat untuk belajar seia, sekata, bersatu, sehati sepikir. Sebagai anggota tubuh Kristus seharusnya semuanya adalah satu, Kristuspun tidak terbagi-bagi didalam sebuah persekutuan, Ia ada diatas semunya. Oleh sebab itu biarlah fokus dari golongan-golongan ini hanya ada pada pemberitaan injil, inilah tujuan yang akan dapat membangun kebersamaan. (JS)

Arsip