Renungan Minggu

Bukan Ingin Dihormati Namun Rela Melayani

Yes. 53: 4-12, Mzm. 91, Ibr. 5: 1-10, Mrk. 10: 35-45

Menjadi murid Yesus merupakan suatu kebanggaan bagi kita, terlebih ketika kita dilibatkan menjadi mitra Tuhan Yesus. Sebagai mitra ada kecenderungan yang ada dalam diri kita untuk menjadi tangan kanan Tuhan Yesus. Kita dapat melihat percakapan dua orang murid Yesus, yaitu Yakobus dan Yohanes anak Zebedeus yang meminta posisi disebelah kanan dan kiri Yesus, namun mereka tidak mengetahui apa yang mereka minta. Yesus memberikan pengertian dan pengajaran bahwa untuk posisi disebelah kanan dan kiri-Nya adalah tidak semudah yang mereka pikirkan. Yesus bertanya apakah mereka mampu melakukan seperti yang Yesus lakukan “meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.” Jawab murid-murid (Yohanes dan Yakobus): “itu kami dapat”. Namun Yesus mengatakan ”tetapi hal duduk disebelah kanan-Ku atau sebelah kiri-Ku, aku tidak berhak memberikannya”.
Pada dasarnya kita semua mirip  dengan murid Yesus, kita  menginginkan mendapatkan posisi yang baik, duduk di sebelah kanan atau kiri. Untuk mendapat posisi yang baik tentunya diperlukan proses atau perjuangan. Salah satu contoh yang dapat dilihat dalam percakapan Yesus dengan murid-Nya, mengingatkan posisi yang baik didapatkan dengan pengorbanan dalam pelayanan sama seperti apa yang Yesus lakukan kepada orang banyak saat itu, yaitu melayani dan memberikan nyawa-Nya (Mrk.10:45) bagi kita manusia berdosa. Saat ini kita diajak untuk memikirkan yang dipikirkan Allah Bapa dan tidak memaksakan kehendak kita dan tidak memikirkan untung dan rugi. Yesus membawa cara yang baru yang tidak biasa dilakukan oleh manusia di dunia, seperti kata Yesus “Tidakkah demikian atas kamu, barang siapa ingin menjadi besar diantara kamu hendaklah menjadi pelayan”.
Menjadi pelayan itu berarti kita mau dengan kerendahan hati untuk melakukan tugas kita. Bukan untuk dihormati namun rela melayani keluarga, teman, dan sesama, kearah yang berkenan dihadapan Allah, dengan cara yang tidak memaksa dan kasar tetapi dengan lemah-lembut penuh kasih yang tulus. Melayani mau turun ke bawah tidak hanya berada di atas singgasana dengan memberikan perintah. Melayani itu perlu membangun kebersamaan dengan orang-orang yang dilayani. Melayani dengan penuh kasih, dengan menciptakan suasana damai sejahtera yang dimulai dari diri sendiri. Melayani bukan memerintah itu berarti menaklukkan ego kita, dengan kerinduan untuk melayani sesama dengan penuh kerendahan hati. Marilah kita saling melayani dalam kehidupan kita sebagai keluarga. (WS)