Renungan Minggu

Buah Pertobatan Membawa Kesukacitaan

Apa yang sebenarnya bisa membuat hati kita merasakan sukacita? Jawaban yang diberikan bisa jadi beragam, sesuai dengan harapan masing-masing orang. Misal, punya banyak uang, punya rumah, punya pasangan hidup yang baik, punya keluarga yang selalu harmonis, bisa sehat sepanjang masa, sukses dalam karir, dan masih banyak lagi. Sayangnya, semua itu tidak pernah bisa menjamin kita hidup bahagia. Semua itu tidak ada yang bisa menjadi andalan dan pegangan mengenai hidup sukacita. Jika yang kita harapkan itu ternyata tidak kita dapatkan, bukankah hanya kekecewaan serta kesedihan mendalam yang tertanam di hati dan pikiran? Sangat mungkin kemudian berubah menjadi kepahitan.
Rasul Paulus menyatakan, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!”. Sukacita yang sejati ada di dalam Tuhan! Misteri karya Ilahi melalui Kristus memampukan kita untuk dapat memiliki sukacita yang sejati, sebab dengan demikian kita diperdamaikan dengan Allah dan dapat menyebutNya Bapa kita! Kita tidak perlu khawatir dan dapat mengutarakan segala keinginan kita kepada Bapa dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Flp. 4:6). Tidak hanya kita yang dapat bersukacita, Allah pun sangat berbahagia bahkan dalam Zefanya 3:17b dikatakan bahwa Allah bersorak-sorak karena perdamaianNya dengan manusia.
Perdamaian dengan Allah memang anugerah luar biasa dari Allah sendiri bagi umat manusia tetapi itu tidak kemudian membuat manusia bisa seenaknya sengaja berbuat dosa (karena berpikir ‘toh diampuni’) (bnd. Luk. 3:8). Yohanes Pembaptis menyerukan agar ada buah dari pertobatan yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari, yaitu hidup berbagi dengan sesama (Luk. 3:11), tidak serakah (Luk. 3:13), tidak mengambil hak orang lain (Luk. 3:14), hidup cukup sesuai kebutuhan (Luk. 3:14). Buah pertobatan tidak hanya menyangkut relasi kita dengan Allah, tetapi juga dengan sesama. Ini semua berangkat dari satu tema besar yaitu ‘Kasih’. Buah pertobatan seharusnya tidak membuat seseorang terkekang. Oleh karenanya, ketika kita mampu menghasilkan buah pertobatan tersebut maka damai sejahtera meliputi hati kita. Sebab semua yang baik dan semua yang benar menurut teladan Allah menghasilkan damai sejahtera dalam hati yang niscaya membawa pada sukacita sejati (bnd. Flp. 4:9).  -TBV-

Arsip