Renungan Minggu

Beriman Sambil Berjuang

2 Raja-raja 5 : 1 – 14; 1 Korintus 9 : 24 – 27 ; Markus 1 : 40 – 45; Mazmur 30

Impala adalah sejenis rusa Afrika. Mereka hidup berkelompok di padang rumput padang dan semak belukar Afrika. Impala bisa melompat sejauh 10 meter, setinggi 3 meter, dan bisa berlari secepat 90 km/jam untuk melarikan diri dari pemangsanya. Tetapi tahukah anda, impala yang luar biasa bisa dikurung di kebun binatang dengan tinggi kandang hanya kurang lebih satu meter. Mereka tidak berani melompat apabila tidak bisa melihat dimana mereka akan mendarat.

Di tengah malam gelap, terjadi kebakaran hebat. Sang anak berlari ke atap rumah dengan panik. Hanya asap, nyala api, dan kegelapan nampak di hadapannya. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari bawah, “Nak, lompat! Ayah akan tangkap kamu di bawah.” Berulang-ulang ayahnya berteriak, tetapi si anak berteriak, “aku tak dapat melihatmu!” Sang ayah menjawab, “Ayah dapat melihatmu, Nak. Lompat!”

Iman adalah kemampuan untuk percaya apa yang tidak bisa kita lihat, sehingga terbebas dari ketakutan yang menjebak dan mengurung. Tetapi seperti kisah Naaman (2 Raja-Raja 5:1-14), panglima perang Raja Aram, percaya saja tidak cukup. Ia percaya bahwa nabi Elisa di tanah seberang  (Israel)  bisa menyembuhkan sakit kustanya. Tetapi ia marah dan terhina karena alih-alih memamerkan “mujizat spektakuler ,” Elisa menyuruhnya “hanya” mandi di sungai Yordan tujuh kali. Apa istimewanya perbuatan ini?  Hampir saja Naaman luput dari anugerah kesembuhan, seandainya dia tetap marah dan tidak menaati perintah Elisa.

Ketaatan adalah perjuangan. Berjuang  untuk taat adalah bagian dari beriman. Naaman berjuang untuk taat mandi tujuh kali di sungai Yordan. Orang kusta berlutut memohon kesembuhan pada Yesus (Mrk 1:40-45). Paulus mengibaratkan hidupnya seperti perjuangan memenangkan pertandingan olahraga (1 Kor 9:24-27). Sang anak harus melompat, walau ia tak dapat melihat ayahnya di bawah. Sang ayah – yang dapat melihatnya, pasti berjuang untuk menangkap dan menyelamatkannya.  Percaya akan janji Tuhan adalah langkah awal iman, berjuang menaati perintah-Nya adalah wujud nyata iman. (DAA)

Arsip