Renungan Minggu

Berani Berkata Tidak

Di tahun 2014 ini ada beberapa ajang pencarian bakat  yang diselenggarakan beberapa stasiun televisi. Pencarian bakat dilakukan dengan audisi di berbagai kota. Para kontestan diminta unjuk kebolehan hingga akhirnya terpilihlah sang juara. Beberapa seniman musik yang bertahan dalam idealismenya seringkali menilai para pemenang ajang pencarian bakat ini lebih mencari ketenaran dengan cara yang mudah dan instan dari pada memberikan sumbangan berharga bagi perkembangan musik Indonesia.
Para pengamat sosial mengatakan inilah era instan. Kita dituntut serba cepat, serba instan. Maka sekarang kita tidak hanya mengenal mie instan, tapi juga artis instan, pejabat instan, Profesor instan, dan bahkan penganut agama instan (menganut agama tertentu untuk menikah saja, kemudian kembali lagi ke agamanya yang semula).
Yesus pun dicobai iblis dengan memerintahkan-Nya mengubah batu menjadi roti. Iblis mengajak Yesus memulai era instan di masa-Nya. Namun tentu Yesus tidak mau. Mungkin hal itu membuat kita berpikir bahwa itu sudah pasti. Yesus pasti tidak akan tergoda menuruti iblis sekalipun Ia baru saja berpuasa. Akan tetapi, pencobaan yang Yesus alami melalui roti, mencakup lebih dari sekedar menghilangkan rasa lapar dengan cara instan. Namun Yesus dicobai untuk memberi makan rakyat miskin di sana. Rakyat yang merindukan kemerdekaan dari pajak-pajak Romawi. Semua ditawarkan iblis agar Yesus mudah mendapat dukungan dan dipercaya sebagai Mesias yang menyelamatkan.
Yesus tentu ingin memberi makan mereka yang miskin kelaparan dan tertindas. Akan tetapi, Yesus berani berkata tidak, menolak pilihan untuk hidup hanya dari roti saja. Memberi makan dengan ajaib adalah pemecahan jangka pendek. Kelaparan akan kembali bersamaan dengan kematian si tukang roti ajaib. Untuk menghindari penyelesaian instan dan sementara itu, Yesus menawarkan alternatif yang baru. Hidup-Nya dan pengajaran-Nya akan menjadi dasar hidup yang baru. Identitas-Nya sebagai Juruselamat dunia tersingkap bukan dengan mengubah bongkahan batu menjadi roti, melainkan dengan membiarkan hidup-Nya dipecah-pecah bagi orang lain. Itulah roti hidup yang kekal. Barangsiapa memakannya, roti itu akan mengisinya dengan semangat dan visi yang baru. Orang-orang kaya yang menerima roti kekal itu dengan cuma-cuma akan membagikan roti duniawinya bagi mereka yang miskin kelaparan dan tertindas.  (YPP)

Arsip