Renungan Minggu

Mengakui Kristus Sebagai Raja

Daniel 7 : 9 – 10, 13-14. Wahyu 1 : 4b – 8. Yohanes 18 : 33 – 37

Mahkota adalah tanda dari otoritas dan kerajaan. Charlemagne, raja besar Eropa di abad VIII mengenakan mahkota bersegi delapan. Setiap sisinya berplakat emas, bertatahkan berlian, safir, dan mutiara. Richard si Hati Singa, Raja Inggris yang gagah berani memiliki mahkota yang sangat berat, sehingga dua orang bangsawan di sisi kiri dan kanan harus membantu untuk menyangga kepalanya. Ratu Elizabeth memakai mahkota yang  bernilai lebih dari $20 juta. Edward II, Raja Inggris yang terkenal bukan karena kepemimpinannya, memiliki 9 mahkota.

Walau semua mahkota ini digabungkan, ditambah dengan koleksi dari Timur, terlihat seperti perhiasan mainan dibandingkan dengan mahkota Kristus. Mahkota yang ‘bersinar’ cemerlang mengalahkan yang lain. Mahkota itu tidak dibentuk oleh jemari pengrajin permata yang jenius. Mahkota itu dibentuk terburu-buru oleh jemari kasar prajurit Romawi. Mahkota itu dikenakan bukan di tengah perayaan yang megah, tetapi di tengah horor penyiksaan dan penghinaan. Mahkota itu adalah mahkota duri (khotbah Chris Surber, “The Pilgrim’s Path 4, Thirsting For God” 1/20/2009).

Allah Bapa yang Mahakuasa memberikan kuasa dan kemuliaan kepada Yesus, untuk menjadi Raja atas segala bangsa (Dan 7:9–10,13-14). Yesus tidak ragu menyatakan diriNya adalah Raja di hadapan Pilatus. Kristus harus memakai mahkota duri, menanggung hina, siksa, dan mati di salib akibat pernyataannya. Bagi Yesus, ia harus menyatakan kebenaran, karena untuk itulah Ia lahir dan untuk itulah Ia datang ke dalam dunia (Yoh 18:33–37).

Mahkota duri itu sebenarnya milik kita. Kristus mengambilnya demi kita, dan akan menggantinya dengan mahkota yang takkan pernah pudar, yaitu mahkota kehidupan (Wah 2:10). Sudah selayaknya kita mengakui Yesus sebagai Raja dalam hidup kita, karena kasih karunia dan damai sejahtera berasal dari Allah dan dari Yesus Kristus (Wah 1:4b–8). Mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Raja, tidak hanya berhenti pada pemahaman siapa Yesus yang sesungguhnya, melainkan pula memberikan segala pujian dan hormat kepada-Nya, dalam bentuk ketaatan kita pada perintah-Nya, dalam setiap aspek kehidupan kita. (DAA)