Renungan Minggu

Bekerjasama Dalam Perbedaan

Darimana sebuah kelompok terbentuk? Adanya persamaan. Beberapa orang punya kesamaan minat, hobi, profesi, usia, status sosial, ras, atau agama. Kesamaan ini memunculkan kebutuhan bertemu. Agar bisa saling berbagi, berdiskusi, dan bermimpi. Persamaan membuat pembicaraan jadi nyambung. Anggotanya makin akrab. Kompak. Juga eksklusif. Sebab ada identitas dan norma yang berlaku khusus bagi anggota. Tercipta aneka kelompok, mulai dari kelompok motor Harley Davidson, sampai kelompok pemahaman Alkitab remaja gereja.

Tidak salah jika tiap kelompok punya ciri dan cara eksklusif. Yang  menjadi masalah, jika anggotanya enggan bekerjasama dengan kelompok yang berbeda. Tertutup. Merasa diri “paling.” Contohnya, para murid melarang kelompok lain mengusir setan dalam nama Yesus (Mar 9:38-40). Enggan bekerjasama, karena merasa hanya kelompok mereka yang benar dan berhak memakai kuasa Yesus. Padahal di sepanjang jaman, Tuhan memakai orang dari kelompok yang berbeda. Di jaman Musa, Tuhan mengangkat 70 orang tua-tua untuk ikut memimpin umat (Bil 11). Mereka orang awam. Bukan nabi seperti Musa. Namun mereka pun dipakai Tuhan dan Musa diminta bekerjasama. Dalam surat Yakobus, ada nasehat agar orang sakit memanggil penatua untuk didoakan (Yak 5:14). Namun itu bukan hak eksklusif para penatua. Bisa juga ia meminta orang Kristen lain  mendoakannya (Yak 5:16). Jadi, para penatua perlu bekerjasama dengan umat. Saling mendoakan, bahkan saling mengaku dosa.

Tiap orang Kristen ibarat sekeping puzzle. Tiap kepingan unik. Berbeda warna dan bentuknya. Tetapi tiap keping tidak sempurna. Tidak utuh. Tiap keping harus ditaruh ditempatnya masing-masing, lalu saling didekatkan. Dilekatkan. Baru nanti muncul gambar yang indah. Gereja dan keluarga juga begitu. Baru nampak indahnya, ketika tiap anggotanya bisa bekerjasama dalam perbedaan. (JTI)